SELAYANG PANDANG PILPRES INDONESIA 9 JULI 2014
Bulan Juni dan Juli 2014 merupakan Bulan yang spesial buat Rakyat Indonesia, dimana Capres & Cawapres sedang melakukan kampanye politik di seluruh Propinsi yang ada di Indonesia. Ada 2 Capres & Cawapres yang bertarung untuk itu. Dengan kondisi seperti membuat pertarungan menjadi sangat terasa dan mendebarkan.
Dengan waktu kampanye resmi yang dijinkan menurut Undang-Undang Pemilu yang hanya terssedia 1 (satu) bulan saja membuat Capres & Cawapres harus bekerja habis-habisan dan memaksimalkan semua kemampuan untuk mendapatkan simpati Rakyat Indonesia dan meraih dukungan suara.
1-2 Bulan sebelum masa kampanye resmi yang ditentukan Rakyat Indonesai sudah disuguhkan berbagai manuver para pimpinan partai untuk menentukan koalisinya masing-masing. Hasil Pemilu Legislatif yang menghasilkan kejutan telah membuat semua Pimpinan Parpol berlomba dengan waktu untuk mencari teman yang bisa saling membantu dalam mengusung Capres Partai yang diusung. Pada saat ini kita menyaksikan bagaimana sebuah Partai Besar yang telah menyiapkan Capres & Cawapres akhirnya menyerah karena tidak bisa mendapatkan parter koalisi yang mau mengusung Pimpinan Partainya sebagai Capres & Cawapres.
Dengan segala cara pendekatan beberapa Pimpinan Partai mempertontonkan komunikasi politik yang tidak elok, dan pada akhirnya terbentuklah 2 kubu Capres & Cawapres yang di usulkan oleh PDIP dan GERINDRA yaitu Jokowi-Jusuf Kala dan Prabow _Hatta. Kedua Pasangan Capres & Cawapres sejak berhasil di bentuk telah mempunyai Pola dan strategi yang bertolak belakang dalam menyusun Partai-Partai Pendukungnya. Jokowi-JK dengan semangat untuk menguatkan sistem Presidensial telah menyatakan semua Partai yang mendukung Wajib tanpa syarat, sedangkan Prabowo-Hatta sejak penyusunan Partai-partai pendukung tanpa sungkan merangkul semua Partai lain dengan alasan semua yang terbaik wajib dirangkul walau dalam kenyataannya dalam merangkul partai sering terucap istilah -istilah yang membuat banyak kalangan terhenyak seperti Menteri senior, kedusdukan diatas menteri dan lain-lain. Apapun itu inilah 2 kubu Capres & Cawapres yang syah menurut Undang-undang Pemilu.
Sejak kedua kubu terbentuk polarisasi dukungan terasa mulai terjadi.Setiap Capres & Cawapres membentuk team sukses untuk Capres & Cawapres masing-masing dan pertarunganpun mulai terjadi antara kedua Kubu.
Sejak masa kampanye resmi dimulai Kedua Capres & Cawapresnya berkeliling mempromosikan Visi Misi masing-masing keseluruh daerah dan juga dalam debat Capres & Cawapres yang di gelar oleh penyelenggara Pemiliu yaitu KPU. Sejak masa kampanye inilah masyarakat Indonesia mulai melihat prilaku para Team sukses yang menggalang dukungan masyarakat melalui semua media yang ada secara masif.
Namun sayang sejak ini pula masyarakat indonesia dipertontonkan tentang kampanye hitam, kampanye negatif, fitnah, kata-kata kasar yang berseliweran setiap hari melalui semua media informatif yang ada. Facebooker setiap hari isinya hanya tentang kedua Capres & Cawapres, Twitter juga sama, apalagi televisi dan Koran. Informasinya juga beragam yang penuh dengan hal-hal yang tidak bisa dipertanggung jawabkan.
Minggu pertama Kampanye sangat terlihat jelas bagaimana Team Jokowi-Jk sangat lemah dan tidak terarah serta tidak siap terhadap serangan yang masif menyuarakan setiap sudut kelemahan kedua Capres & Cawapresnya, hal ini berdampak pada melemahnya dukungan nyata yang ditunjukan masyarakat pada Capres ini. Sementara Pasangan no.1 Capres prabowo-Hatta malah sebaliknya, Team sukses yang terarah, tema kampanye yang mengundang simpati dan mobilisasi masa yang begitu bagus membuat dukungan masyarakat yang lain ikut dalam arus ini dan dengan sangat antusias serta provokatif berani menunjukan pilihannya. Akibat nyata adalah pergerakan positif yang significan di peroleh oleh Prabowo-Hatta dalam merebut suara rakyat.
Dengan adanya 5 kali debat resmi yang ditanyangkan secara nasional oleh semua Televisi membuat masyarakat dapat mendengar seperti apa Capres & Cawapres yang ada dan memudahkan mereka untuk menetapkan hatinya dalam pencoblosan saat Pemilu. Dengan adanya Polling oleh lembaga Survey yang ada, membuat masyarakat tahu bagaimana suara dukungan masyarakat kepada masing-masing kandidat. Dalam 2 minggu suara dukungan Prabowo- Hatta melonjak drastis dan suara dukungan untuk Jokowi melorot sehingga suara dukungan Jokowi yang pada awalnya sangat besar dengan Prabowo pada saat ini terpaut dalam hitungan jari.
Dengan pergerakan yang semakin bagus membuat para pendukung Capres Prabowo-Hatta semakin bersemangat dan pongah sehingga tanpa sadar mulai melakukan penyerangan terhadap Jokowi dengan hal-hal yang tidak pada tempatnya. Jokowi di terpakan issu antek china, anak china, PKI, Bukan Islam dan lain-lain. Masyarakat yang mendengar mulai merasakan kepenatan dan risih atas hal-hal tersebut. Pada Minggu Kedua ini kedua pasangan mulai mempunyai Lagu khusus yang diciptakan oleh para pendukungnya dalam meraih simpati masyarakat. Jokowi dengan lagu "Salam 2 Jari" serta Prabowo dengan lagu "Garuda didadaku Prabowo Presidenku".... Kedua lagu itu menyihir jutaan Rakyat Indonesia untuk berpihak kepada masing-masing kandidat.
Pada Minggu ke Tiga pertarungan semakin masif di masyarakat secara langsung maupun di Media massa, media sosial dan Televisi.Pertarungan ini semakin kasar dan semakin tidak terkendali. Di Minggu ini berseliweran kata-kata kasar dan fitnah yang semakin membabi buta. pada minggu ini ada hal yang mencoreng dan memperlambat gerak laju raihan dukungan Prabowo-Hatta karena munculnya kasus Video Lagu Dukungan untuk Prabowo yang di upload oleh Ahmad Dani yang menuai protes dari seluruh dunia.
Pada Minggu keempat awal walaupun pergerakan kenaikan dukungan masyarakat tidak secepat dahulu namun secara teoritis Kandidat Capres & Cawapres Prabowo- Hatta sudah sangat yakin dapat merebut hati masyarakat dikarenakan jarak antara kedua belah pihak hanya hitungan 3 persen dengan pemilih mengambang sekitar 6 persen. Selisih Pada awal yang berjarak 27 persen sekarang hanya 3 persen. Luar biasa perolehan Kubu Prabowo-Hatta dan ini jelas membuat Kubu jokowi-JK menjadi panik. Jokowi-JK semakin intens dalam kampanye.
Pada akhir Minggu ke empatkembali terjadi 4 kasus yang mempengaruhi pandangan dan pilihan masyarakat Indonesia secara umum yaitu : Kasus munculnya klaim dari Keluarga Gus Dur atas pernyataan Prabowo terhadap Gus Dur, Munculnya twit "sinting" oleh fahri Ahmad kepada Jokowi karena menyetujui Hari Santri, Lautan manusia yang memenuhi GBK pada saat Konser 2 jari oleh Seniman pendukung Jokowi dan Kesalahan Hatta Rajasa dalam mengajukan pertanyaan kepada Jokowi tentang Adipura (Hatta menganggap itu Kalpataru). Keempat kejadian ini berpengaruh besar terhadap dukungan akhir Masyarakat Indonesia dalam Pencoblosan.
Khusus untuk Konser 2 Jari yang dilaksanakan di Gelora Bung karno mempunyai arti yang sangat besar buat Jokowi-JK, dengan datangnya masyarakat memenuhi stadion GBK pada saat itu memberikan sinyal positif kepada Masyarakat umum yang tadinya Ragu, yang tadinya tidak yakin, yang tadinya tidak berani untuk pada akhirnya berani bersikap dan berani berpihak. Ditambah setelah Konser tersebut adalah Debat terakhir dimana Hatta rajasa sangat salah dalam mengajukan suatu pertanyaan yang awalnya dengan niat menyudutkan Jokowi-JK namun pada akhirnya mempermalukan diri.
Masa tenang yang hanya 3 hari dipergunakan oleh masing-masing kandidat untuk menjalankan kesibukannya masing-masing. Secara umum masa tenang benar-benar menjadi masa tenang kecuali di Media Massa dan Media Sosial.
9 Juli 2014 Pemilu dilaksanakan secara serentak dan berjalan aman, lancar dan damai.Pada pemilu kali ini di pantau oleh 11 Lembaga Survey untuk Quick Count.
Pada pukul 2 siang dimana berdasarkan perhitungan 7 Lembaga Quick Count dan suara yang masuk baru sekitar 78 % dengan perhitungan 52 % untuk Jokowi-JK dan 48 % untuk Prabowo-Hatta, Megawati yang didampingi oleh pimpinan Partai Pendukungnya menyatakan kemenangan yang dikuti oleh Pidato Kemenangan oleh Jokowi di Tugu Proklamasi.
Selang sejam kemudian pada saat suara Quick Count telah mendekati 90 % di TV One Prabowo-Hatta di dampingi oleh pimpinan Partai Pendukungnya yang menggunakan referensi hasil 3 Lembaga Survey Quick count mereka juga menyatakan Kemenangannya dengan hitungan Jokowi-JK 48% dan Prabowo Hatta 52 %.
Claim Kemenangan oleh Kedua Belah Pihak membuat Masyarakat I ndonesia terkesima, bengong, kawatir dan Bingung. Ini jelas tidak masuk akal tapi terjadi. Siapa yang benar siapa yang salah membuat kedua kubu pasang strategi lanjutan untuk melihat siapa pemenang sesungguhnya. Disinilah yang aneh tapi nyata terjadi Lembaga Quick Count untuk Pemilihan Seorang Presiden dan Wakil Presiden Indonesia menghasilkan hasil yang terbalik untuk Kedua Kubu. Ini sungguh memalukan karena semua berita ini telah disampaikan kepada Masyarakat umum. Lembaga Survey Quick Count semestinya menggunakan keilmuannya dengan baik dan benar bukan malah memberikan informasi simapng siur seperti ini. Dimana letak kredibilitas Lemabga Survey Quick Count tersebut. Ini merupakan penghianatan terhadap keilmuan dan Penghianatan terhadap Masyarakat.
berlanjut next ..............